Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
selasa 5 Januari 2016 berlakukan keputusan menurunkan harga bahan bakar
minyak (bbm) penurunan
harga bbm ini mencakup semua jenis bbm yang di pasarkan
PT. Pertamina
untuk wilayah Jawa, Madura Bali dan juga di luar tiga wilayah tersebut
langkah penurunan ini didasarkan harga minyak dunia yang cenderung
menurun namun akibat
penurunan harga yang tidak cukup besar
untuk 2 jenis bbm yaitu solar dan premium antusias masyarakat pun tidak
besar seperti yang di rasakan pengguna kendaraan yang ada di Tegal Jawa
Tengah. Sebelumnya tarif bbm di rencanakan akan di bebani dengan
pungutan dana ketahanan energi namun akhirnya Pemerintah memutuskan
harga bbm terbaru tidak di tambah penghimpunan dana pengembangan energi agar tidak memberatkan.
Mulai 5 Januari
harga bahan bakar minyak (bbm) turun premium
turun dari 7.300 menjadi 7.150 rupiah perliter, solar dari 6.700 menjadi
5.950 rupiah perliter, pertamaks dari 8.650 menjadi 8.450 rupiah
perliter sedangkan pertalite dari 8.200 menjadi 7.950 rupiah perliter
jelang turunnya harga bbm angka pembelian di Surabaya justru menurun
hingga 40% pembelian angka stabil bahkan bisa jadi meningkat setelah
harga bbm turun. Adanya penurunan harga bbm mendapat berbagai respons
dari masyarakat ada pengendara yang akan tetap setia menggunakan premium
ada juga yang langsung beralih ke pertamak. Sejumlah SPBU mengaku
permintaan premium menurun sedangkan permintaan pertamak semakin
meningkat seperti yang di alami salah satu SPBU di Surabaya. Ini sesuai
catatan PT. Pertamina Region V yang menujukan konsumsi bbm premium
menurun sekitar 13%. Di Yogyakarta turunnya harga bbm dinilai masyarakat
mampu mengurangi beban keuangan, penurunan
harga bbm sekarang ini di berlakukan karena
mempertimbangkan nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia
untuk mengantisipasi meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap
pertalite dan pertamak rencananya PT. Pertamina akan menambah jumlah
cadangan bbm dan jumlah SPBU di Indonesia.
Penurunan harga premium dan solar di tanggapi dingin oleh
sejumlah pedagang Sembako dan sayuran di pasar Tebet Timur Jakarta
Selatan pasalnya penurunan ini tidak langsung berimbas pada penurunan
harga bahan pokok yang sudah terlanjur tinggi pedagang tingkat eceran
masih mempertimbangkan adanya fluktuasi harga grosir yang masih tinggi.
Sebaliknya masyarakat berharap penyesuaian harga segera dilakukan sesuai
dengan turunnya harga bbm, sementara itu yayasan lembaga konsumen
Indonesia juga meragukan penurunan harga bbm berdampak pada penurunan
harga bahan pokok pasalnya penurunan harga premium dan solar kali ini
tidak signifikan. Untuk itu YLKI meminta Menteri Perdagangan terus
memantau pergerakan harga kebutuhan pokok secara rutin. Sebelumnya
pemerintah Rabu sore menurunkan harga bbm jenis premium dari 7.300 rupiah menjadi 7.150 rupiah perliter sedangkan
harga solar hari ini
juga turun dari 6.700 menjadi 5.950 rupiah perliter, harga baru bbm ini
berlaku mulai 5 Januari 2016, harga minyak dunia yang saat ini berada
pada 35 US Dolar perbarel dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika
yang stabil di sekitar 14.000 rupiah perdolar Amerika menjadi
pertimbangan untuk menurunkan
harga baru bbm.